Minggu, 26 Februari 2012


Menelisik Jejak-jejak Leluhur di Sulawesi
(Syamsoul daeng mangngerang)
Damai sejahtera Nusantara, Segala puji tertuju hanya kepadanya tuhan yang maha mengetahui seluruh rahasia langit dan bumi raja alam semesta, Tuhan yang Maha Esa. Dialah yang membimbing seluruh makhluk-makhluk Nya untuk dapat berkreasi dan berkarya dimuka bumi ini, khususnya kepada manusia yang diberikan tanggung jawab untuk melestarikan jagad raya ini sebagai tempat bernaung yang begitu luas dan mengandung misteri-misteri yang membingungkan bagi manusia itu sendiri, tiadalah manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta beserta apa-apa yang terkandung didalamnya jika bukan dari kasih sayang Nya. Hanya orang-orang yang percaya serta yang dikasihinya yang akan mendapatkan kasih-sayang tersebut. Oleh karenanya artikle berikut dibawah ini akan sediki menelisik jejak-jejak orang-orang terdahulu yang menjadi leluhur bangsa nusantara(melayu) khususya sejarah-sejarah yang ada di sulawesi. Guna dijadikan sebagai bekal didalam memperjuangkan nilai-nilai luhur bangsa untuk menuju kejayaan nusantara.
Ada tertuang didalam naskah kitab suci yang berbunyi sebagai berikut .
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (QS: 2/248). 
Catatan :
Tabut merupakan bekas-bekas peninggalan sejarah
Tabut versi Al Qur'an
Tabut  
.... Nach singkat saja silahkan disimak sendiri..semoga para pembaca dapat mengerti ataupun menangkap nilai-nilai yang ada didalamnya....
Awal mula kerajaan di sulawesi 
       Kerajaan luwu adalah kerajaan bugis tertua yg ada di sulawesi (bahkan diyakini sebagai kerajaan tertua di Indonesia bagian timur) didirikan sejak abad ke-VII (pada masa ini hanya ada satu kerajaan yang berdiri di daratan Sulawesi; yaitu, kedatuan atau kerajaan Luwu. Pada saat itu Luwu adalah milik semua orang Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, Poso dan Kolaka. Namun pada pertengahan abad ke-X sebagian masyarakat Luwu akhirnya memilih bermigrasi dan berpindah ke jazirah selatan sulawesi dan mendirikan kerajaan-kerajaan sendiri; seperti kerajaan Wajo, Soppeng, Bone, dan Gowa Tallo). Pada abad ke-XIV sampai abad XV, kerajaan Luwu mencapai masa kejayaannya.

Jika ditarik kebelakang, nama kerajaan luwu sudah lama dikenal dalam naskah bugis kuno I La galigo (karya sastra terpanjang dan tertua di dunia). Naskah ini memang aslinya berasal dari kerajaan luwu yang menceritakan tokoh utamanya; yaitu, Sawerigading. Sawerigading merupakan sosok lelaki perkasa keturunan dewa yang mempunyai kesaktian yang luar biasa dan sekaligus merupakan putra mahkota dari Raja, Pajung/Datu Luwu II Batara Lattu dan cucu dari pendiri kerajaan Luwu yaitu Batara Guru. Selain kerajaan Luwu, ada juga dua kerajaan pertama yang diceritakan di dalam naskah I La Galigo; yaitu, kerajaan Tompotikka dan kerajaan Wewang nriwuk, namun keberadaan kedua kerajaan ini masih misterius.
Pada bagian awal kisah dalam naskah I La Galigo yang lazim disebut mula tau, dikisahkan tentang awal mula peradaban masyarakat bugis. I La Galigo dalam kisahnya membagi bumi menjadi tiga bagian, bumi bagian atas, tengah, dan bawah. Kehidupan masyarakat Bugis dimulai di suatu daerah bumi bagian tengah yang bernama ware' ( wareq atau luwu). Batara Guru dianggap sebagai leluhur orang bugis yang berasal dari dunia tengah yang menikah dengan seorang wanita yang berasal dari dunia bawah yang bernama We Nyili’ Timo. Keturunan dari keduannya kemudian berturut-turut menjadi lakon dalam kisah I La Galigo selanjutnya.

Tempat yang bernama Luwu memang sentral disebut dalam satra I La Galigo. Luwu merupakan sebuah tempat di bagian utara Teluk Bone yang berpusat di Ware' atau Wareq (sekarang Palopo). Sehubungan dengan kisah yang diangkat dalam sastra I La Galigo, para peneliti menyimpulkan bahwa Luwu merupakan pusat dimana awal mula peradaban orang-orang Bugis (Jika anda melacak silsilah keturunan orang bugis, maka anda akan menemuinya di Luwu. Anda akan sampai pada Sawerigading, Batara Lattu dan Batara Guru dan berakhir pada pasangan Patotoe dan Palinge).
Situasi Politik Di Akhir Abad ke 15
Pada awal abad ke 15, Luwu’ menguasai Sungai Cenrana yang menghubungi Tasik Besar. Penempatan Luwu’ pula terletak di muara sungai Cenrana, manakala di hulu sungai pula terdapat beberapa kerajaan kecil. Luwu’ cuba mengekalkan pengaruhnya di bahagian barat, di jalan perhubungan antara Selat Makassar dan Sungai Cenrana melalui Tasik Besar, untuk mengawal perdagangan sumber-sumber asli di sebelah barat, mineral dari pegunungan Toraja dan sumber pertanian sepanjang Sungai Welennae. Walau bagaimanapun, Sidenreng, terletak di bahagian barat Tasik Besar telah memilih untuk berlindung di bawah Soppeng. Pada masa yang sama, Sawitto’, Alitta, Suppa’, Bacukiki’ dan Rappang, juga terletak di sebelah barat telah membentuk satu konfederasi dinamakan ‘ Aja’tappareng ‘ (tanah disebelah barat tasik) sekaligus menyebabkan Luwu hilang pengaruh di atas kawasan ini.
Malahan, sesetengah penempatan-penempatan Bugis mula enggan berada dibawah pemerintahan Luwu’. Di hulu Sungai Cenrana pula, kerajaan Wajo’ sedang membangun dan mula menyebarkan pengaruhnya untuk mengawal kawasan sekelilingnya. Manakala pemerintah-pemerintah di kawasan sekeliling Wajo’ pula di gelar ‘Arung Matoa’ bermaksud Ketua Pemerintah. Sekitar 1490, salah seorang dari pemerintah ini membuat perjanjian dengan Wajo’, dan sekaligus meletakkan Luwu’ dibawah pengaruh Wajo’. Pada tahun 1498 pula, penduduk Wajo’ melantik Arung Matoa Puang ri Ma’galatung, seorang pemerintah yang disegani oleh orang Bugis, dan berjaya menjadikan Wajo’ sebagai salah satu kerajaan utama Bugis.
Di sebelah selatan pula, Bone, di bawah pemerintahan Raja Kerrampelua, sedang meluaskan sempadannya di kawasan pertanian sekaligus membantu ekonomi Bone, menambah kuasa buruh dan kuasa tentera. Penempatan Bugis yang disebut di dalam La Galigo kini terletak di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan yang membangun. Soppeng pula terperangkap di antara Sidenreng, Wajo’ dan Bone manakala penempatan di tanah tinggi cuba keluar dari pengaruh Luwu’ dan pada masa yang sama ingin mengelakkan pengaruh kerajaan-kerajaan yang sedang membangun.
Kejatuhan Luwu
Tempoh antara 1500 dan 1530 menyaksikan kerajaan Luwu’ mula merosot. Ketika itu, Luwu’ diperintah oleh Dewaraja, seorang pahlawan yang hebat. Didalam pertemuan diantara Dewaraja dan Arung Matoa Puang ri Ma’galatung pada tahun 1508, Dewaraja bersetuju untuk menyerahkan kawasan-kawasan di sepanjang Sungai Cenrana kepada Wajo’ sebagai pertukaran Wajo’ hendaklah membantu Luwu’ menguasai Sidenreng dimana Sidenreng berjaya dikuasai oleh Luwuk dan Sidenrang terpaksa menyerahkan kepada Wajo’ kawasan timur laut dan utara Tasik Besar.

Pada tahun 1509, Luwu’ menyerang Bone untuk menyekat kuasa Bone tetapi ketika itu, Bone sudah pun menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan tentera Luwu mengalami kekalahan. Malahan Dewaraja, walaupun berjaya melarikan diri, hampir dibunuh jika tidak kerana amaran pemerintah Bone kepada tenteranya untuk tidak ‘menyentuh’ ketua musuh Bone. Walaubagaimanapun, Payung Merah milik Luwu’ yang menjadi simbol ketuanan tertinggi berjaya dimiliki Bone sekaligus mengakhiri ketuanan Luwu’ di negeri-negeri Bugis. Walaubagaimanapun, ketuanan Luwu’ masih disanjung tinggi dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Bila penggantinya Dewaraja mangkat, Wajo’ menyerang Luwu’ dan meluaskan pengaruhnya di daerah-daerah Luwu’. Ini membolehkan Wajo’ menguasai beberapa kawasan-kawasan yang strategis.

+
KELAHIRAN SUKU-SUKU DI SULAWESI
Makassar
Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara' berarti Mereka yang Bersifat Terbuka.

Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi 
Perang  yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya.

Perang Makassar 1669
Kesultanan Gowa

Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat Suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Dim anapun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa memerangi Belanda disana. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui.

Sejarah Makassar masih sangat panjang. Generasi demi generasi yang terampas harga diri dan kepercayaan dirinya sedang bangkit bertahap demi bertahap sambil berusaha menyambung kebesaran nama Makassar, "Le'ba Kusoronna Biseangku, Kucampa'na Sombalakku. Tamammelokka Punna Teai Labuang"
Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival), dan membangun kebudayaannya.

Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul ”Manusia Bugis” (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan.

Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia.

Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu, sehingga sekilas terkesan rapuh. Namun jika membaca sejarahnya, akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter, dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting, kapal, dan bodi-bodi.

Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan, khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada musim ikan terbang bertelur (motangnga).
Suku Mandar adalah suku asli di Sulawesi Barat. Menurut situs "Joshua Project" suku Mandar berjumlah 253.000 jiwa.
Suku Mandar juga berjiwa petualang hingga Ke kalimantan, sebagian besar suku Mandar bermukim di pulau Laut, Kabupaten Kota Baru. Rumah adat suku Mandar di sebut boyang. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut). Populasi suku Mandar di Propinsi Kalimantan Selatan : 29.322 (BPS - sensus th. 2000)




Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Mandar di Kalimantan Selatan berjumlah 29.322 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :

* 49 jiwa di kabupaten Tanah Laut
* 29.123 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu)
* 17 jiwa di kabupaten Banjar
* 1 jiwa di kabupaten Tapin
* 2 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan
* 7 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah
* 12 jiwa di kabupaten Tabalong
* 105 jiwa di kota Banjarmasin
* 6 jiwa di kota Banjarbaru
Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti “Laut”. Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku. Walaupun orang sering mengatakan bahwa Luwu termasuk suku Bugis, tetapi orang-orang Luwu itu sendiri menyatakan mereka bukan suku Bugis, tetapi suku Luwu. Sesuai dengan pemberitaan lontara Pammana yang mengisahkan pembentukan suku Ugi’ (Bugis) di daerah Cina Rilau dan Cina Riaja, yang keduanya disebut pula Tana Ugi’ ialah orang-orang Luwu yang bermigrasi ke daerah yang sekarang disebut Tana Bone dan Tana Wajo dan membentuk sebuah kerajaan. Mereka menamakan dirinya Ugi’ yang diambil dari akhir kata nama rajanya bernama La Sattumpugi yang merupakan sepupu dua kali dari Sawerigading dan juga suami dari We Tenriabeng, saudara kembar dari Sawerigading.
Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di dunia tengah. Beliau turun tepat di daerah Ussu, kecamatan Malili, kabupaten Luwu Timur lalu dikawinkan dengan We Nyili Timo’ sepupu satu kalinya yang berasal dari dunia bawah, sehingga lahirlah beberapa keturunan. Setelah dunia tengah sudah banyak penghuninya dan kehidupan di dalamnya sudah berjalan baik, maka kembalilah Batara Guru ke atas langit.
Kerajaan Luwu merupakan kerajaan paling sepuh diantara beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan karena asal-usul setiap raja di Sulawesi Selatan berasal dari Luwu. Seperi dalam kerajaan Gowa, mereka meyakini bahwa raja pertama mereka mempunyai asal-usul dari kerajaan Luwu begitu halnya dengan kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dan bahkan di Pulau Sulawesi serta sebagian Kalimantan. Oleh sebab itu, Luwu sangat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.
Pusat kerajaan Luwu (Ware’) pertama adalah di daerah Ussu. Ussu terkenal akan hasil alamnya berupa besi dan pelabuhannya yang terletak di muara sungai Cerekang , dan diyakini kalau besi-besi yang ada di Jawa untuk dipakai membuat keris pada zaman itu berasal dari Luwu. Hal ini bisa di benarkan karena dulunya Luwu sudah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Sulawesi dan hal ini dapat dibuktikan dengan tercantumnya nama kerajaan Luwu dalam kitab Negarakertagama milik kerajaan Majapahit. Kerajaan Luwu juga dikenal dengan hasil karya sastranya, yaitu I La Galigo. I La Galigo merupakan karya sastra terbesar dan terpanjang di dunia mengalahkan Mahabrata yang berasal dari India yang ditulis sekitar abad 14 lalu disalin ulang lagi oleh Colli’ Puji’e Arung Pancana Toa sebanyak 12 jilid yang kini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda.
Pusat kerajaan Luwu (Ware’) yang terakhir adalah Palopo. Pemindahan Ware’ ini (Ware’ sebelumnya Malangke) karena letak Palopo yang strategis di pinggir Teluk Bone sehingga memudahkan untuk menjalin hubungan dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan melalui laut. Pemindahan Ware’ ini dilakukan pada masa Pajung / Datu Luwu ke- 15, yaitu Andi Pattiware’ Daeng Parabung pada abad ke XV awal masuknya Islam ke Tana Luwu.
Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935-1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan dibangga-banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Beliau rela mati dan meninggalkan seluruh harta dan kekuasaannya untuk mempertahahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itulah beliau diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat sekitar tahun 2003, dimana beliau merupakan satu-satunya raja Luwu dari sekian raja Luwu yang memerintah ketika Belanda datang menjajah negara kita yang memperoleh gelar kehormatan tersebut.
Sebelum agama Islam masuk ke Tana Luwu, masyarakat mulanya menganut Animisme. Setelah sepuluh abad lebih berdiri, kerajaan Luwu baru menerima agama Islam sekitar abad ke-15, yaitu pada tahun !593. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal-hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di desa Lapandoso, kecamatan Bua, kabupaten Luwu.
Setelah sampai, Datu Sulaiman lalu dipertemukan dengan Tandipau (Maddikka Bua saat itu). Sebelum menerima agama yang dibawa oleh kedua Datu itu, Tandipau terlebih dahulu menantang Datu Sulaiman. Tantangan itu adalah Tandipau akan menyusun telur sampai beberapa tingkat, apabila Datu Sulaiman mengambil telur yang ada di tengah-tengah tetapi telur itu tidak jatuh atau bergeser sedikitpun, maka Tandipau akan mengakui ajaran agama Islam yang dibawa oleh Datu Sulaiman. Tandipau berani disyahadatkan asalkan tidak diketahui oleh Datu’ karena ia takut durhaka bila mendahului Datu’. Sebelum ke Malangke (Ware’) untuk menghadap Datu’, ke dua Dato’ itu terlebih dahulu membangun sebuah masjid di Bua tepatnya di desa Tana Rigella yang dibangun sekitar tahun 1594 Masehi yang merupakan masjid tertua di Sulawei Selatan. Masjid ini pernah dimasuki oleh tentara NICA pada zaman penjajahan lalu menginjak dan merobek-robek Al-Qur’an yang ada di dalam masjid. Hal inilah yang memicu kemarahan rakyat Luwu lalu terjadilah perang semesta rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari 1946 yang selalu diperingati oleh masyarakat Luwu setiap tahunnya.
Setelah membuat masjid di Bua, Dato’ Sulaiman lalu diantar ke Ware’ (Malangke) untuk menemui Datu’ Pattiware’. Setelah terjadi dialog siang dan malam antara Datu’ dengan Dato’ Sulaiman mengenai ajaran agama yang dibawanya, maka Datu’ Pattiware’ pun bersedia diislamkan bersama seisi istana. Pada Waktu itu Pattiware’ sudah memiliki tiga orang anak, yaitu Pattiaraja (12 tahun), Pattipasaung (10 tahun, yang kemudian menjadi Pajung / Datu Luwu ke 16 menggantikan ayahnya) dan Karaeng Baineya (3 tahun), serta adik iparnya Tepu Karaeng (25 tahun). Islam lalu dijadikan sebagai agama kerajaan dan dijadikan pula sebagai sumber hukum. Walaupun sudah dijadikan sebagai agama kerajaann, penduduk yang jauh dari Ware’ dan Bua masih tetap menganut kepercayaan Sawerigading. Mereka mengatakan bahwa ajaran Sawerigading lebih unggul dibanding ajaran agama yang daibawa oleh Dato’ tersebut.
Setelah berhasil mengislamkan Datu’ Pattiware’, Dato’ ri Bandang atau Khatib Bungsu lalu pergi untuk menyebarkan Islam didaerah lain di Sulawesi Selatan. Sedangkan Dato’ Sulaiman tetap tinggal di Luwu agar bisa mengislamkan seluruh rakyat Luwu karena hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Beliau lalu wafat dan dikuburkan di Malangke, tepatnya di daerah Pattimang, dan ia pun diberi gelar Dato’ Pattimang.
Saat pusat kerajaan Luwu (Ware’) dipindahkan dari Malangke ke Palopo, Andi Pattiware’ yang bergelar Petta Matinro’e ri Pattimang (1587-1615 M) Datu’ pada zaman itu, memerintahkan untuk membuat suatu masjid yang dapat digunakan oleh masyarakat Palopo untuk menunaikan Shalat secara berjamaah yang letaknya tidaklah jauh dari “Salassae” istana Luwu. Masjid itu sendiri dibuat oleh Pong Mante pada tahun 1604 Masehi dimana makamnya terdapat dalam masjid Djami itu sendiri, tepatnya di bawah mimbar yang besar. Konon batu yang dipakai untuk membangun masjid itu dibawa dari Toraja dengan cara orang-orang berjejer dari Toraja sampai ke Palopo lalu batu-batu itu dioper satu per satu. Sedangkan bahan yang dipakai untuk merekatkan batu yang satu dengan yang lainnya adalah putih telur yang diambil dari kecamatan Walenrang, kabupaten Luwu.
Nama Palopo itu sendiri yang sudah lama kita kenal berasal dari kata “Pallopo’ni” yang diucapkan oleh orang-orang saat ingin menancapkan tiang masjid yang besar. Panjang tiang utama masjid ini sekitar 16 meter dan kayu yang dipakai adalah kayu Cina Guri, namun sekarang kayu jenis ini sudh tidak ada lagi. Konon kayu jenis Cina Guri ini dikutuk sehingga sekarang hanya menjadi rerumputan kecil yang biasa diberikan pada ternak sebagai makanan. Arti kata “Pallopo’” yang secara bebas berarti “masukkan dengan tepat”. Menurut kepercayaan masyarakat, seseorang belum bisa dikatakan menginjak Palopo jika ia belum pernah masuk ke dalam Masjid Djami.
Setelah empat abad lebih, bangunan masjid Jami’ masih utuh dan tetap terawat dengan baik sehingga pada tahun 2002 yang lalu Masjid Djami’ Palopo memperoleh penghargaan sebagai Masjid Tua terbaik se-Indonesia mengalahkan ribuan masjid tua lainnya di Nusantara. Setelah berkembang selama kurang lebih empat abad, agama Islam kini menjadi agama yang mayoritas dianut oleh warga Tana Luwu dan Sulawesi Selatan pada umumnya.
(La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora : Makassar).

Toraja
Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Sejarah Aluk

Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi’ adalah pembawa aluk Sabda Saratu’ yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To Unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerahsebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suku dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.
Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”, Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu’, Parange menuju Buntao’, Pasontik ke Pantilang, Pote’Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle.

Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.


Sabtu, 25 Februari 2012

Mengantar Bangsa Menuju kejayaan

Membangun moral Bangsa Dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
KATA SAMBUTAN
oleh
(Syamsoul daeng mangngerang)
Damai sejahtera nusantara segala puji tertuju hanya kepadanya tuhan yang memiliki sifat-sifat yang agung raja semesta alam tempat berlindung dan bernaung bagi seluruh makhluk-makhluk ciptaan seantero jagad raya ini.
Dengan didasari kesadaran yang begitu memprihatinkan melihat kondisi bangsa yang sedang mengalami ujian maka kami kembali menyajikan sebuah makalah yang memuat tentang pendidikan moral spritual yang dikemas dalam bahasa hikmah nusantara(indonesia) sebagai bahasa asli kita, adapun untuk memberi penjelasan pada substansi materi maka tak mengapalah kita menggunakan istilah bahasa selainnya . adapun isi dari makalah tersebut ialah membahas tentang nilai-nilai ketuhanan, budi pekerti yang menjadi dasar pemikiran sesuai asas pancasila dengan merujuk kepada sumber-sumber yang berkaitan dengan makalah tersebut
Sebagai penjelasan awal sebagaimana yang tertuang didalam Sila  pertama Bahwa untuk dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera serta bermartabat maka nilai-nilai kebenaran universal yang berlandaskan pada nilai ketuhanan yang maha Esa sebagai asas dasar bangsa sekaligus sebagai warisan leluhur itu haruslah dapat menyentuh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, tanpa mengedapankan fanatisme agama, kelompok suku maupun Golongan. Dengan nilai-nilai ketuhanan maka kita akan dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan yang sejati serta melahirkan generasi-generasi bangsa yang unggul dan lebih bermoral dan bermartabat dimasa akan datang. tanpa nilai-nilai tersebut maka bangsa nusantara khususnya indonesia yang kita cintai bersama akan semakin terperosok dan terjerumus kedalam lembah kehancuran yang kian waktu dapat kita rasakan dan saksikan. khususnya bagi generasi-generasi bangsa yang akan datang, krisis moral/budi pekerti yang tengah melandah bangsa yang kita cintai bersama ini serta rasa yang saling tidak menghargai antara sesama manusi tidak lain dan tidak bukan karna sesungguhnya bangsa ini telah jauh melupakan jati dirinya, bangsa ini telah meninggalkan nilai-nilai budaya leluhurnya, yang  berdampak pada kehancuran moral. ibarat kacang yang telah melupakan kulitnya. Dengan melihat kondisi yang demikian maka sudah sepantasnyalah kita sebagai anak-anak bangsa sadar, bangkit dan tampil untuk memperjuangkan nilai-nilai budaya bangsa tersebut sebagai warisan dan pusaka bangsa. Maka materi yang akan kita sajikan ini membahas tentang  nilai-nilai ketuhanan yang mengarah pada budipekerti bangsa, khususnya bagi para anggota GERAKAN FAJAR NUSANTARA  sebagaimana yang tekandung pada nilai-nilai ajaran pancasila,  didalam bahasa sanskerta kata tuhan dikenal dengan istilah sang hyang widhi, dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Allah SWT, dan Didalam bahasa bugis makassar, Batara, karaeng, puang, Semua itu adalah mengarah kepada obyek yang sama yaitu tuhan yang maha esa yang memiliki sifat-sifat yang luhur yang harus membumi kedalam bentuk kehidupan sosial berbangsa dan bermasyarakat dimuka bumi ini. Oleh karena kesadaran demikian maka makalah ini akan berusaha menjabarkan tentang hakekat nilai-nilai tersebut sebagai. berikut :



TUJUAN :
1.      Menanamkan kesadaran spritual, Bagi Para kader, anggota GERAKAN FAJAR NUSANTARA yang berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan yang maha Esa
2.      Terciptanya Budi pekerti bagi seluruh Kader, Anggota GERAKAN FAJAR NUSANTARA maupun seluruh masyarakat indonesia menuju nusantara jaya sebagai bangsa yang beradab dibawa naungan tuhan yang maha Esa.
3.      Membangun semangat Persatuan dan kesatuan bergotong royong
sasaran :
1.      Kader-kader GERAKAN FAJAR NUSANTARA
2.      Seluruh anggota organisasi GERAKAN FAJAR NUSANTARA dan masyarakat yang masih memiliki kepedulian terhadap tanah air nusantara


 Pengertian Tuhan Dalam Bahasa Sanskerta
 Secara etimologi

kata Sang Hyang Widhi berasal dari akar kata “Sang”, “Hyang”, dan “Widhi”.
Sang, memiliki makna personalisasi atau identifikasi.
Sang Rama yang menghimpun/mempersatukan, Sang Resi yang mengajar dan mendidik, Sang Ratu yang memerintah, Sang Disi yang merancang,
dan Tarahan yang menghubungkan yang akan menjalankan darma dengan sempurna. Jika dikaitkan dengan istilah bahasa lain seperti bahasa makassar misalnya dengan istilah “BATARA” maka nilainya sama  (baca sejarah) contoh Batara Guru, Karaeng dalam istilah Bugis makassar. Begitupun dengan istilah Allah SWT.


Budi Pekerti ( Buddha )
Karena mengetahui tentang patikrama, maka mengetahui juga jalan kesentosaan diri. Dengan mengikuti ajaran leluhur maka unggul perangnya, lama berjayanya, dan tumbuh tanamannya. Oleh sebab itu tegakkanlah patikrama di dalam pekerjaan dan kehidupan semua orang. Janganlah bertengkar memperebutkan yang tepat, benar, jujur, dan lurus-pikiran. Hindarkanlah benturan oleh karena berselisih maksud, yaitu oleh karena saling berkeras pada keinginan diri masing-masing. Akan tetapi hendaklah setiap orang berusaha untuk mengikuti pendapat yang lainnya. Peliharalah kerukunan dan kesatuan di dalam hidup bersama. Sehingga akan terciptalah ketenteraman yang meneduhkan, seperti air yang turun dari Gunung Kayangan, yang ada di telaga bening, dan yang ditemukan di tanah pusara, yaitu tempat orang berteduh dari kepanasan di tengah hari. Jagalah berdirinya Kabuyutan, baik di masa damai maupun ketika musuh menyerang. Karena jatuhnya kabuyutan berarti hilangnya kehormatan bangsa. Peliharalah kesucian karang karuhun, sebagai tanah pusaka dari leluhur, dan patuhilah petunjuk patikrama:Janganlah membunuh yang tidak berdosa dan memarahi serta merampas milik yang tidak bersalah … Janganlah menyakiti orang yang benar dan jangan pula bersikap saling mencurigai serta saling menyesali dan berhati-hatilah dalam memilih jodoh … Janganlah menjodohkan anak dalam usia muda, supaya tidak menimbulkan kesedihan dan kesusahan di kemudian hari … Janganlah menghampiri yang bukan merupakan haknya, yaitu istri yang telah dinikahi orang, dan wanita yang telah ditebus untuk dijadikan hamba … Janganlah membiarkan pria dan wanita mandi bersama, supaya tidak terjadi pelanggaran susila di tempat air mengalir … Janganlah mewariskan harta yang tidak akan membawa kebahagiaan, yaitu harta yang diperoleh dengan cara yang salah, seperti misalnya harta perjudian, harta curian, harta rampasan, dan harta titipan.
Janganlah para pemimpin saling memperebutkan kedudukan, penghasilan,  dan kemuliaan, akan tetapi usahakanlah kebaikan dan kebahagiaan bagi sesama, karena pekerjaan itu adalah jalan untuk menjadi orang berbudi pekerti, sedangkan tingkah laku itu adalah tangga kemuliaan. Bila dalam bertugas sikapnya segan, hormat, dan sopan, maka akan mendapat dukungan semua pihak. Maka peliharalah kesetiaan yang tulus dan janganlah berkhianat serta berbuat culas … Janganlah pula menipu kepada diri-sendiri dengan membolak-balikkan antara yang benar dan yang tidak benar, serta memburukkan orang lain dan menjalankan tipu muslihat yang licik … Di dalam mengemban amanat, janganlah suka mengeluh, merasa kecewa, dengki terhadap sesama petugas, dan dipenuhi dengan sikap iri. Karena itu semua akan membuat diri sendiri susah, murung berkepanjangan, dan kehilangan tenaga … Di dalam bertugas janganlah mengambil milik orang lain, tanpa memberi tahu dan tanpa diberi ijin … Janganlah pula menyusahkan orang lain dan bertindak merugikan dengan jalan menyalah-gunakan kebaikannya.
Janganlah bersikap sembarangan dengan berpakaian yang tidak pantas dan membuang kotoran di tempat yang tidak seharusnya … Janganlah bersikap tidak santun terhadap orang-orang, para gadis, kaum ibu, Janganlah bersikap menunjukkan ketidak-sukaan dalam menyambut utusan negara … Janganlah melaksanakan tugas dengan rasa marah, resah, uring-uringan, dan sikap ingin mencuri, memperdagangkan barang orang lain tanpa disuruh yang empunya, dan berpihak kepada kelompok lawan dan musuh (darma cante).
Hyang, terkait dengan keberadaan spiritual yang dimuliakan atau mendapatkan penghormatan yang khusus. Biasanya, ini dikaitkan dengan wujud personal yang bercahaya dan suci. Maka sesungguhnya budi-pekerti manusia yang berdiri di atas kebenaran dharma itu digambarkan seperti air yang muncul dari kesucian tanah. Manusia yang demikianlah yang berpegang teguh kepada ajaran orang-tua dan leluhur, yaitu Sanghyang. Karena itulah warisan yang berasal dari Sanghyang Catur Kreta, yaitu Rahyangta Dewa Raja, Rahyangta Rawung Langit, Rahyangta Medang Jaya, dan Rahyangta Menir Agung. Sebagaimana air yang bening dan jernih, demikianlah keadaan Sanghyang Darma Wisesa. Ajaran yang mendatangkan kesadaran dan menghilangkan ketidak-sadaran. Maka pada hakekatnya susah maupun senangnya kehidupan manusia adalah oleh karena ulahnya sendiri. Pada tangannyalah terletak pilihan untuk berdarma membangun kesejahteraan dunia, atau untuk terjerumus hanyut kedalam neraka kehidupan. Hanya dengan mematuhi darma dan memahami karma, manusia dapat mengusahakan kesentosaan dirinya dan kebahagiaan sesamanya manusia, intinya apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Widhi, memiliki makna penghapus ketidak tahuan. Penghapus ketidak tahuan memiliki wujud yang beragam menurut jalan ketidak tahuan diselesaikan. Wujud-wujud ini menjadi media bagaimana manusia dan ciptaan di jagat raya ini mengerti dan memahami diri dan lingkungannya (ekologi). Widhi dapat berupa: cahaya, suara, wujud tersentuh, sensasi tersensori, memori pikiran, rasa emosional, radiasi bintang, pengartian tanda, rasa kecapan, dan lain-lain. Widhi ini sangat terkait dengan dharma, atau lingkungan yang merupakan pustaka abadi dimana manusia dapat membaca keseluruhan pengetahuan tentang widhi. Dharma secara keseluruhan adalah widhi itu sendiri. Terkait dengan proses belajar, dharma tampaknya terpartisi menjadi arus berlanjut yang hadir kepada manusia tanpa henti hingga masa manusia itu berakhir.


 Kebijaksanaan
Apabila semua itu dipelihara dan digunakan secara benar, maka akan mendatangkan keadaan yang disebut Sanghyang Sasana Kreta, yaitu kesejahteraan hidup, keberhasilan usaha, dan kesuburan alam. Seluruh bagian alam kehidupan akan berkembang dan bertumbuh oleh karena karma yang baik di dalam semangat darma yang Demikian pula tatanan masyarakat akan terpelihara dalam keadaan damai dan sentosa, karena kebajikan para pengamal ajaran darma, dan karena ditegakkannya
berbakti di dalam darma kepada Tuhan yang menjadi sumber kehidupan alam semesta. Segenap rakyat warga masyarakat hidup berbahagia dalam kesentosaan, karena semua pihak bersikap saling mendukung, saling mengisi, dan saling melengkapi. Satu dengan lainnya saling mengasah (silih asah), saling mengasihi (silih asih), dan saling mengasuh (silih asuh). Itulah makna kebijaksanaan yang sejati. ASAH, ASIH & ASUH
Di dalam kebajikan hidup berdasarkan darma setiap orang menekuni pekerjaannya masing-masing, sebagaimana dicontohkan dalam (kedelapan belas jenis tapa di nagara). Demikian pula penyelenggaraan kehidupan masyarakat berjalan dengan baik oleh karena tegaknya ketiga penanggung-jawab negeri (tritangtu di buwana), sebagaimana dikatakan:
Jagad daranan di sang rama, jagad kreta di sang resi, jagad palangka di sang ratu …
Dunia kemakmuran tanggung-jawab sang rama, dunia kesejahteraan tanggung-jawab sang resi, dunia kerajaan tanggung-jawab sang ratu.
Karena ketiganya itu sama asal-mulanya, dan sama pula kemuliaannya. Maka ketiganya bekerja-sama demi kesejahteraan semua orang, tanpa memperebutkan kedudukan, pengaruh, penghasilan, dan anugerah. Ketiganya mengusahakan kebajikan yang mulia dengan perbuatan (ulah), dengan ucapan (sabda), dan iktikad. Maka meniru keteladanan para pemimpinnya itu setiap orangpun akan berusaha untuk memiliki keluhuran di dalam dirinya.
Semua orang berada dalam keadaan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Dalam kesejajaran dengan yang lainnya, setiap orang menekuni pekerjaannya masing-masing. Membawa semangat di dalam dada, dan dengan teguh sepenuh hati menjunjung tinggi Sanghyang Darmasiksa.
Demikianlah ajaran guru yang budiman tentang hidup bijaksana berdasarkan darma. Bila setiap orang memahami darmanya masing-masing, maka kesejahteraaan hidup(nya) di dunia akan tercapai. Sedangkan kesejahteraan dunia (kertaning jagad) pada umumnya, akan terwujud pula bilamana tuntutan darma terpenuhi dengan sempurna. Adapun keberhasilan dalam darma itu akan membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mencapai kesempurnaan jiwanya. Di manapun ia bekerja, dan apapun yang menjadi tugas dan tanggung-jawabnya.

 
Sang Hyang Widhi

Secara deskriptif, makna Sang Hyang Widhi tidak cukup untuk diungkapkan dengan beberapa kalimat. Namun, dengan adanya dharma, semua orang dapat memahami makna sang hyang widhi ini secara utuh. Bahwa sang hyang widhi dipahami pertama melalui terlihatnya matahari di dalam mimpi seseorang atau penerang hidup dan kehidupan, yang memberikan kesenangan luar biasa atau kesenangan tertinggi dari yang pernah dia rasakan, ketentraman. Kesenangan atau kebahagiaan ini berlanjut beberapa hari tanpa jeda. Namun, seseorang tidak dapat melihat matahari di dalam mimpi jika di dalam kenyataan ini dia tidak perhatian dengan matahari dan perkembangan hari siang dan malam, tidak memahami karakter Sang Hyang Widhi. Tradisi Tuhan yang maha Esa.
Sang Hyang Widhi atau Tuhan yang maha Esa secara sederhana berarti dia yang memancarkan widhi atau penghapus ketidaktahuan. Dengan batasan media yang berupa cahaya, maka sang hyang widhi adalah sumber cahaya. Sumber cahaya ini berupa matahari atau sumber cahaya lain. Dengan demikian, dengan membatasi bentuk widhi berupa cahaya, sang hyang widhi adalah sumber cahaya. Maka bertekunlah memperhatikan ajaran Darma Patikrama sebagai pedoman kehidupan yang benar. Berbaktilah kepada keluhuran yang dijunjung tinggi dan ikutilah nasihat para pendahulu, yaitu ibu (indung), bapak (bapa), kakek (aki), dan leluhur (buyut). Janganlah bersikap keras-kepala dan berkeras tidak mengindahkan aturan dari leluhur, yaitu semua pantangan untuk pengendalian diri. Janganlah bingung dalam menghadapi musuh, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Karena barang siapa mengindahkan patikrama ia akan unggul dalam perang dan lama berjaya dalam usahanya. Bila kesempurnaan ajaran budi pekerti dipelihara, sebagai ajaran pegangan hidup dari para leluhur, maka keadaan dunia akan menjadi aman dan tenteram damai dan sejahtera
oleh karenanya. Dimana cahaya sang tuhan telah menyatu bersama manusia di bumi. Kondisi demikianlah yang di idamkan bagi setiap manusia yang pernah terlahir dimuka bumi ini.







Rabu, 01 Februari 2012

Misteri Bangsa Melayu(Bani Jawi) & Candi Borobudur


Rahasia Terbesar (Tersembunyi) Bani Jawi (Melayu/Nusantara) -Siapakah Bani Jawi?
-Apa Misi rahasia Bani Jawi?

Siapakah bani Jawi/Jawa/Melayu? Darimanakah asalnya Melayu itu? Ketika ramai pengkaji memperdebatkan kaum-kaum yang hilang seperti The Lost Tribe of Israel,Atlantis,Lemuria,Sodom and Gomorrah malah masih mencari-cari siapakah Gog and Magog,rahasia bangsa misteri ini masih terpelihara di dalam tabut rahasia sejak beribu-ribu tahun.Tiada siapa yang tahu dari mana asalnya bangsa ini.Bagaimana bangsa ini boleh wujud di tanah paling selatan benua Asia,'di penghujung dunia'.Bangsa yang hilang masih tidur dan ditidurkan.'Di hujung dunia',setelah lelah mengembara,bangsa misteri beristirahat dan beristirahat...tidur dengan lelapnya...senyap sunyi tanpa siapa mengganggu walaupun Hitler telah pergi ke Tibet mencari bangsa misteri ini, tetapi dia juga ketinggalan jejak mereka...

...... dimanakah bangsa misteri ini meneruskan perjalanan mereka? Masih adakah masa lagi untuk menjejaki mereka?

'Diujung Dunia' bangsa ini masih nyenyak tidur!

...J. Crawfurd menambah argumentnya dengan bukti bahwa bangsa Melayu dan bangsa Jawa telah memiliki taraf kebudayaan yang tinggi dalam abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu kesimpulan bahwa: *Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah merupakan induk yang menyebar ke tempat lain....

... Rahasia yang terpendam beribu tahun tentang satu bangsa pengembara yang mencari 'Tanah yang Dijanjikan' semakin lama semakin terbongkar dengan penemuan pelbagai artifak yang penuh misteri dan mengundang pertanyaan seperti penemuan keris di sebuah kuil purba di Okinawa Jepun,kendi purba yang sama di Vietnam,Kemboja dan Pahang,penemuan kota purba yang dinamakan Jawi/Jawa di Jordan dan juga penemuan keris purba di Rusia selain gendang Dong Son dan Kapak Tua Asia Tengah yang popular itu. APA MAKSUD KEPADA SEMUA MISTERI INI?....

.. Bangsa terahasia inilah yang menurunkan pelbagai bangsa Asia dari tempat asal mereka iaitu Asia Barat dan Asia Tengah di mana dari situlah bermulanya peradaban manusia.... ... Bangsa ini, yang merupakan pemegang rahasia akhir zaman adalah satu bangsa besar yang pernah membina kota-kota purba dan menyertai peperangan-peperangan agung sejak surutnya Banjir Besar bersama-sama bangsa agung yang telah pupus seperti Sumerian dan Akkadian.....

... Sesungguhnya kisah pengembaraan bangsa ini merupakan satu epik yang teramat panjang,lebih panjang dari epik Homer,The Iliad and the Odyssey....

...... Di selat Melaka, kedua-dua kumpulan ini bertemu. Kumpulan yang tiba melalui jalan laut (yang banyak menetap di Kepulauan Indonesia) bertemu saudara mereka (kumpulan yang tiba melalui jalan darat-majoriti menetap di Semenanjung 'Emas' Tanah Melayu). Mereka adalah serumpun dan bersaudara. Sudah lama (ratusan tahun) mereka terpisah. Mereka berpelukan dan menangis. Ramai yang hadir melihat peristiwa paling bersejarah ini. Mungkin cucu-cicit gadis misteri yang meninggalkan selendang merah tadi ada di situ. Bangsa Keturah telah bersatu di Selat Melaka di

'Tanah Yang Dijanjikan' The Land of The East'.......

.......... Apakah rahasia bangsa Melayu 2500 tahun dahulu? Apakah yang ditemui oleh rombongan kerajaan Nabi Sulaiman di Nusantara? Apakah perjanjian rahsia para Firaun di The Land of The Gods? .......... ....Anehnya,para Firaun ini mendakwa nenek moyang mereka berasal dari tanah ini,yang digelar.... 'THE LAND OF THE GODS' 
MISTERI BANGUNAN PIRAMID, disitu ada gambaran bahwa bentuk Piramid khususnya Candi-candi di Jawa kemungkinan pengaruh Ka’bah pada jaman nabi Ibrahim. Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa artikel yang menyinggung mengenai “Bani Jawi yang merupakan keturunan dari nabi Ibrahim. Kata “Jawi” dalam kesusatraan Jawa merupakan kata “halus” dari Jowo (Jawa). Seperti kita ketahui bahasa Jawa itu bahasa yang paling ribet di seluruh dunia. Karena dalam 1 suku ada tingkatan-tingkatan bahasa yang bisa mencapai 10 tingkatan atau lebih dari bahasa yang paling kasar sampai paling halus, dimana tidak semua orang Jawa menguasainya.
Orang Jawa sebelum datangnya Islam percaya akan adanya monoteisme (Sang Hyang Widhi). Dan bahwa di dalam naskah-naskah Kuno Bangsa Jawa disebutkan bahwa Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa. Brahma merupakan nama lain Ibrahim.
Pendapat mengenai Bani Jawi yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim bisa anda cari sendiri di Gugel. Secara sempit Bani Jawi mengacu ke Jawa tetapi secara Luas Bani Jawi antara lain meliputi “Sunda, Melayu/Sumatra, Bugis dll” yang berasal dari garis Kentura (Istri nabi Ibrahim yang lain lihat pada kitab kejadian 25 ayat 1-6 ).  Menurut beberapa penulis Nusantara adalah Atlantis dulunya, dimana merupakan pusat peradaban pada jaman dulu. Khusus untuk Jawa ada yang istimewa bahwa hampir 50% fosil manusia purba dari seluruh dunia ditemukan disini (daerah Sangiran)
Hubungan Jawa dengan kaum semit memang menarik untuk dipikirkan. Sampai-sampai di dunia banyak statement “nyeleneh” bahwa Jawa itu satu keturunan dengan Yahudi (Jews). Bahwa dari peradaban Atlantis peradaban Yahudi berasal. Jika mengetik kata Java dan Jews di google maka banyak sekali ditemukan. Bahkan menurut beberapa artikel di internet  mengatakan Ada fakta yang menarik apabila anda berkunjung ke situs resmi Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV / JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake gambar RUMAH JOGLO JAWA.
Jika anda membaca ceritera pembangunan Candi Perambanan (secara mistik), diceritakan bahwa pembangunan Candi perambanan dilakukan oleh ribuan Jin atas kehendak “Bandung Bandawasa” terhadap “Dewi Rorojonggrang” dimana pembangunannya secara singkat. Hal ini mirip kisah “Nabi Sulaiman” terhadab “Ratu Balqis”. Meski alur ceritanya tidak sama persis 100%.
Salah satu tokoh yang ahli dalam matematika Al-Quran yaitu Fahmi Basa bahkan mengungkapkan beberapa hal menarik sebagai berikut (sumber republika) :
Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tongkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman’.” (QS Al-Baqarah [2]: 248).
Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat. (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.
Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. (QS Saba [34]: 13). Seperti diketahui, banyak patung Buddha yang ada di Borobudur. Sedangkan gedung atau bangunan yang tinggi itu adalah Candi Prambanan.
Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.
Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. “Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri,” katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur. Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang.
Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. (QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata ‘Wana’ bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba.
Ketujuh, buah ‘maja’ yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.  “Tetapi, mereka berpaling maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS Saba [34]: 16).
Kedelapan, nama Sulaiman menunjukkan sebagai nama orang Jawa. Awalan kata ‘su’merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang, yang namanya berawalan ‘Su’.
Kesembilan, Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud. “Pergilah kamu dengan membawa suratku ini.” (QS An-Naml [27]: 28).  Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Ditambahkannya, surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.
Kesepuluh, bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Lihat surah Saba [34] 16). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. “Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman,” kata Fahmi menegaskan.
Selain bukti-bukti di atas, kata Fahmi, masih banyak lagi bukti lainnya yang menunjukkan bahwa kisah Ratu Saba dan Sulaiman terjadi di Indonesia. Seperti terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia (QS Saba [34]: 12), kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman (QS An-Naml [27]: 32), nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Dengan bukti-bukti di atas, Fahmi Basya meyakini bahwa Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman. Bagaimana dengan pembaca? Hanya Allah yang mengetahuinya. Wallahu A’lam. (Republika)
Fahmi Basa menyimpulkan bahwa Borobudur Prambanan dan daerah sekitarnya merupakan peninggalan  nabi Sulaiman. Tentu banyak pendapat yang menentang. Karena dari segi tahun sejarah mungkin beda. Tetapi jika mendapat pengaruh mungkin bisa saja.
Yang  menjadi pertanyaan sekarang adalah kapan sebenarnya dan berapa lama  kira2 candi-candi itu (khususnya Borobudur & Prambanan) dibangun?

1.PENDAHULUAN.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang
Candi Borobudur 
adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susU, APAKAH ITU ARTINYA LANTAI YANG TERBUAt dari kaca???
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya.
2. INDONESIA NEGARA ATLANTIS.
cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas – Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
3.APAKAH ATLANTIS ITU ADALAH NEGERI SABA DALAM AL QURAN dan ALKITAB???
Ust. Fahmi Basya (FB) pimpinan Sains Spiritual Qur’an Dzikrul Lil Alamiin Bogor. Penjelasan catatan ini meliputi kebenaran adanya Jejak Nabi Sulaiman di tanah Jawa yang berjarak waktu 30-an Abad lebih dan sekitar misteri Candi Borobudur sebagai ‘arsy Ratu Saba’ yang dipindahkan Jinn dalam semalam seperti diinspirasi oleh ayat Al-Qur’an terutama surah An-Naml.
Letak Bukit Stumbu di desa Karangrejo, skitar 2,5 Km sebelah barat daya Candi Borobudur, Magelang.
Secara metodologis, lontaran teori Stumbu DLA diatas didasarkan pada fakta-fakta ayat Al-Qur’an yang difahami secara simbolik berisi simbol-simbol matematis atas budaya penciptaan alam seisinya. Menurut FB yang lulusan Matematika MIPA UI tahun 1983, Dosen Matematika UIJ dan Dewan Pakar ICMI Jakarta Barat (2004) ini, terdapat tiga belas alasan mengapa Negeri Saba terletak di Indonesia dan bukan di Negeri Yaman seperti dipercaya ahli mufassir Al-Qur’an. Keseluruh bukti tentang Negeri Saba menurutnya bisa ditemui di Pulau Jawa, mengarah keberadaan Ratu Boko dengan Borobudur-nya.
Analisis khusus FB sejak tahun 1982 melahirkan beberapa buku seperti Matematika Al-Quran (2003) dan Sejuta Fenomena Al-Qur’an (2008). Ia menyimpulkan, pertama, bahwa penjelasan QS 27:22 tentang negeri Saba tidak ditemukan di Yaman, sedangkan bukti tersebut ditemukan di Pulau Jawa (Wana Saba). Sedang kedua, arti kata saba (sabun) tidak ditemukan nama Sabun di Yaman, sedang arti lain kata saba (hutan) juga tidak ditemukan disana. QS 27:24 ‘Untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri’.
Ketiga, kandungan ayat QS 27:24 ’…dan aku dapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari dari selain Allah’. Di dalam sejarah tak ditemukan sebuah tempat di Yaman yang masyarakatnya bersujud kepada matahari, sedangkan di Pulau Jawa berlokasi di Komplek Ratu Boko dengan beberapa bukti pendukung.
Keempat; Bukti itu seperti (27:40) adanya bangunan (’arsy) yang dipindahkan ke suatu Lembah berjarak terbang burung dalam waktu singkat. Tentang siapa yang memindahkan dan bagaimana dipindahkan, tafsir ayat tersebut mengisahkan yang memindah singgasana Ratu Saba adalah JINN IFRID selesai sebelum Nabi Sulaiman mengerlingkan mata. FB menerangkan, terdapat peran JINN dalam realisasi ruang waktu disini, bahwa makhluk ini memiliki syarat ilmiah memindahkan arsy Saba tersebut ke Lembah Semut. Berdasar hukum kecepatan cahaya, makhluk Jinn mampu dengan mudah dan super cepat memindahkan suatu bangunan. Diketahui peristiwa seperti ini bukan tidak pernah ada, bahkan terjadi pula di belahan bumi lain. Demikian pula relativitas pemahaman manusia akan membatasi kebenaran nash ini.
Kelima, menurut FB, lokasi kabar dalam QS 6:67 ada ditemukan sisa-sisa dan tandanya di Komplek Ratu Boko yang berjarak 36 Km dari Bukit Stumbu tenggara Borobudur. Di lembah Stumbu inilah arsy Saba tersebut dipindahkan sebagai kini dikisahkan RAKYAT (34:19) sebuah Candi BOKO dan Borobudur. Mereka kerjakan untuknya apa yang ia kehendaki dari gedung-gedung yang tinggi dan Patung-patung dan Piring-piring seperti kolam dan kuali-kuali yang tetap (34:13).
Keenam, ayat tentang SABA QS 34:16 ’dan sesuatu yang disebut Sidrin Qolil ’ masih ditemukan bukti sedikit itu pada Gerbang Ratu Boko dan Serpihan Stupa Candi Borobudur. Ayat ketujuh 34:16 ’…dengan dua kebun yang mempunyai rasa buah pahit’ bisa ditemukan Pulau Jawa. Makna buah Maja yang Pahit seperti ini lagi-lagi tidak ditemukan di Negeri Yaman, bagi teori yang menyebut lokasi sejarah SABA.
Kedelapan, peristiwa besar yang disebut dalam QS 34:16 tentang adanya BANJIR yang merubah peta dataran Asia dengan adanya Palung Sunda. Maka kami menjadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Bukti kesembilan ini terdapat pada QS 34:19. Menurut FB, peristiwa banjir dahsyat tersaebut menyebabkan wilayah SABA hancur menjadi berpulau-pulau, belum pernah dalam sejarah kehancuran suatu negeri hingga menjadi lebih 17.000 pulau seperti Nusantara ini.
Kesepuluh, adanya catatan pembatasan pada perjalanan QS 34:18. Jarak perjalanan dimaksud sebatas kekuatan terbang ideal seekor Burung (Hud Hud) sepanjang 36 Km. Angka ini menurut FB merupakan bukti kesebelas keberadaan Saba di Jawa Tengah, merupakan jarak antara Komplek Ratu Boko sekarang dengan lokasi Candi Borobudur di Magelang.
Keduabelas, adanya surat Nabi Sulaiman (27:28) yang dibawa burung Hud Hud kepada Ratu Balkis, menurut FB tiada lain dicampakkan kaki-kaki burung tersebut di pelataran istana Boko yang disebutnya sebagai Sidril Qolil, kata ini dua kali ditemui di dalam Al-Qur’an.
Ketigabelas, adanya taabut peti wasiat. Menurut FB dalam ekspedisi diatas dari bunyi QS 27:29-30 ’Berkata Ratu Balqis: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sungguh (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’ Inilah beberapa pembuktian secuil kisah Nabi Sulaiman yang sampai kepada pemahaman bahwa Negeri Saba benar-benar terhubung kepada bangunan arsy di Jawa.
papa mimin akan tampilkan ayat2 yang berhubungan secara berurutan.
KEPANDAIAN-KEPANDAIAN YANG DIBERIKAN KEPADA DAUD A.S. DAN KEKUASAAN YANG DIBERIKAN KEPADA SULAIMAN A.S.
***34:10*** 10. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,
***34:11*** 11. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.
***34:12*** 12. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)1236) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
1236).Maksudnya bila Sulaiman mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perja- lanan unta yang cepat dalam sebulan. Begitu pula bila ia menga- dakan perjalanan dari tengah hari sampai sore, maka kecepatan- nya sama dengan perjalanan sebulan.
***34:13*** 13. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung- ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.
***34:14*** 14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
KEINGKARAN KAUM SABA’ TERHADAP NI’MAT ALLAH DAN AKIBATNYA.
***34:15*** 15. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.
***34:16*** 16. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar1237) dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr1238).
1237).Maksudnya: banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma’rib. 1238).”Pohon Atsl” ialah sejenis pohon cemara “pohon Sidr” ialah sejenis pohon bidara.
***34:17*** 17. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran me- reka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
***34:18*** 18. Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berja- lanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman1239).
1239).Yang dimaksud dengan “negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya” ialah negeri yang berada di Syam, karena kesuburannya; dan negeri- negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan.
***34:19*** 19. Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami1240)”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancur- nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
1240).Yang dimaksud dengan permintaan ini ialah supaya kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.
***34:20*** 20. Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang- orang yang beriman.
***34:21*** 21. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidu- pan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.
3.ALKITAB.
SAMA DENGAN ALQURAN DALAM PETUNJUK DAN BUKTI BUKTI..
Kalau di Bible pada 2 Tawarikh 9 9:9 Maka diberikan permaisuri itu kepada baginda emas seratus dua puluh talenta dan amat banyak rempah-rempah dan permata yang indah-indah; maka belum pernah ada macam rempah-rempah seperti yang diberikan permaisuri Syeba itu kepada baginda raja Sulaiman.
9:10 Maka hamba Hiram serta dengan hamba Sulaiman yang membawa emas dari Ofir itu membawa kayu cendana dan permata yang indah-indahpun.
Rempah-rempah adalah hasil perkebunan di Indonesia, Cendana juga merupakan asli tanaman di Nusantara.
KESIMPULAN SEMENTARA(BUKAN FINAL)
kita simpulkan dari semua wikepedia dengan kuat pernyataannya adalah candi itu bukan di buat oleh seylendra atau kerajaan mataram…melainkan benar peninggalan nabi sulaiman…
seylendra nama wangsa kerajaan sriwijaya yang melancong ke tanah jawa…budha(budi pekerti) adalah agama tertua yang berasal dari tanah jawa,kemudian melebar ke daratan india dan negara lainnya….dalam sejarah yang di ungkapkan…sulaiman memerintahkan jin membuat candi borobudur artinya candi yang tinggi dalam bahasa sansekerta…..bahasa sanskerta terbentuk pada 500 sebelum masehi
SUMBER :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Salakanagara
http://www.indianetzone.com/19/origi…va_dynasty.htm
http://fabpedigree.com/s039/f742968.htm
http://fabpedigree.com/s080/f943746.htm 
http://fabpedigree.com/s012/f559022.htm
http://fabpedigree.com/s076/f199897.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Cyrus_the_Great_in_the_Qur’an

Cerita rakyat Jawa Barat: Asal mula kerajaan di Jawa Barat 

Majalah MISTERI » AKI TIREM: Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan